Penanganan Luka Terinfeksi

  • Sharebar
Etiologi
Selulitis sering disebabkan infeksi streptokok. Bila terjadi pada luka yang dijahit primer biasanya disebabkan oleh stafilokok. Suatu infeksi yang berat kemungkinan merupakan infeksi Clostridial myositis (gangren gas dengan masa inkubasi _+ 48 jam) dan Clostridial cellulitis (masa inkubasi 3-4 hari).

 
Manifestasi Klinis
Luka dinyatakan terkena infeksi, menjadi abses atau selulitis bila terdapat tanda-tanda: tumor (massa, edema), kalor (kenaikan suhu), rubor (warna kemerahan/eritema), dan dolor (rasa nyeri). Selain itu luka yang terus-menerus mengeluarkan eksudat purulen atau luka kronis yang disertai infeksi juga menunjukkan terjadinya infeksi. Sebagian besar infeksi bermula sebagai selulitis, suatu infeksi jaringan kulit dan subkutis yang tidak terlokalisir.

 

Suatu infeksi yang berat oleh Clostridial myositis mula-mula ditandai dengan nyeri. Kulit di sekitar luka berwarna pucat, mengkilat, serta sembab. Biasanya disertai keluarnya cairan encer kecoklatan yang berbau busuk. Kadang-kadang disertai tanda-tanda sistemik seperti demam dan menggigil. Sementara infeksi terus berjalan, tekanan darah akan menurun dan pasien tampak sangat lemah. Krepitasi baru terjadi bila proses telah lanjut.

 

Sedangkan infeksi oleh Clostridial cellulitis adalah infeksi fasia dan jaringan ikat yang disertai krepitasi. Meski secara sistemik kurang toksik, kerusakan jaringan yang terjadi bisa sangat luas.

 
Penatalaksanaan
1. Pada tahap awal, atasi dengan pemberian antibiotik

2. Bila telah terjadi supurasi dan fluktuasi, lakukan insisi

 

Tindakan

1. Perlengkapan: cairan antiseptik, alat dan zat anestesi, skalpel bermata nomor 11, kuret, kassa, tampon, pembalut

2. Tindakan dilakukan sesuai prinsip asepsis dan antisepsis

3. Tindakan anestesi:

  • Pada abses yang dalam, lakukan infiltrasi tepat di atas abses
  • Bila letak abses di permukaan, lakukan anestesi dengan etil klorida yang disemprotkan sampai terbentuk lapisan putih mirip salju.

4. Tusukkan dan buat insisi lurus dengan mata skalpel ke dalam abses di tempat yang mempunyai fluktuasi maksimal. Bila rongga abses cukup besar dan kulit di atasnya mengalami nekrotik, lakukan insisi silang kemudian atap abses dibuang dengan mengeksisi sudut-sudutnya. Jika tidak ingin melakukan eksisi, sayatan harus cukup panjang agar luka terbuka lebar dan tidak terlalu cepat menutup kembali.

5. Keluarkan pus. Lokuli di dalam abses dapat dirusak dengan jari, sedangkan membrannya bisa dikeluarkan dengan hati-hati dengan alat kuret.

6. Setelah pus dikeluarkan seluruhnya, rongga diisi tampon. Dapat digunakasn tampon berupa pita yang bisa terbuat dari kasa yang telah dibasahi parafin atau potongan sarung tangan steril. Sisakan ujung pita di luar rongga. Tampon tidak boleh dijejalkan terlalu padat karena akan menghalangi keluarnya eksudat dan menghambat obliterasi luka.

7. Tutup luka dengan balutan yang menyerap cairan sebagai kompres basah dan memberikan tekanan yang lebih dibanding biasanya. Kompres dapat menggunakan larutan garam fisiologis atau antiseptik ringan. Balutan diganti minimal sehari 3 kali.

8. Periksa luka 24 – 48 jam kemudian dan angkat tampon. Bila eksudat masih mengalir ulangi tindakan ini tiap 48 – 72 jam sampai tanda-tanda penyembuhan mulai terlihat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 8 + 5 ?
Please leave these two fields as-is: