Penatalaksanaan Perdarahan Pascapersalinan Kala III

  • Sharebar

Pada persalinan kala III dapat terjadi perdarahan pascapersalinan retensio plasenta, maupun inversio uteri. Tindakan operatif yang dapat dilakukan pada kala uri untuk mengatasi masalah tadi ialah melepaskan dan melahirkan plasenta dengan perasat Brandt Andrews atau manual, melakukan eksplorasi rongga rahim, dan reposisi inversio uteri.
Perasat Brandt Andrews

Tindakan
Segera setelah bayi dilahirkan, pasang klem pada tali pusat yang berada dekat vulva. Palpasi uterus dengan hati-hati tanpa dipijat, untuk menentukan apakah terjadi kontraksi yang kuat

 

Setelah beberapa kontraksi dan terjadi perubahan ukuran dan bentuk uterus, pastikan telah terjadi pelepasan plasenta, pegang klem tersebut secara kuat dengan satu tangan letakkan ujung-ujung jari tangan yang lain pada abdomen, kemudian tekan di antara fundus dan simfisis untuk mendorong fundus ke atas. Jika plasenta sudah terlepas, tali pusat akan keluar melalui vagina. Dorong lagi fundus ke atas, tarik pusat dengan hati-hati, dan lahirkan plasenta.

Pelepasan Plasenta Secara Manual
Cara ini dipakai bila terjadi retensio plasenta dan perdarahan banyak kala uri yang tidak dapat dihentikan dengan uterotonik dan masase.

Tindakan
Setelah dilakukan asepsis dan antisepsis pada tangan penolong dan genitalia eksterna pasien, tangan kanan penolong dimasukkan ke dalam vagina dan tangan kiri menahan fundus untuk mencegah kolpaporeksis. Tangan kanan menuju plasenta untuk menemukan implantasi dan tepi plasenta, mengikuti tali pusat yang telah diregangkan dengan klem Kocher dan dipegang oleh asisten. Setelah sampai ke lokasi, sisipkan ujung jari antara plasenta dan dinding uterus lalu plasenta dilepaskan bertahap. Eksplorasi ulang untuk meyakinkan tidak ada sisa plasenta. Tangan kiri penolong dipindahkan ke suprasimfisis. Plasenta dikeluarkan oleh penolong sambil dilakukan penarikan tali pusat oleh asisten. Tangan kiri penolong sedikit mendorong uterus ke arah dorsokranial. Perhatikan kontraksi uterus dan kemungkinan perdarahan.

Eksplorasi Rongga Rahim
Eksplorasi rongga rahim dilakukan bila ada kecurigaan tertinggalnya jaringan plasenta, menentukan adanya ruptur uteri, atau pada pasien yang melahirkan pervaginam dengan riwayat melahirkan secara seksio sesaria.

 

Tangan kanan penolong masuk secara obstetrik menuju lokasi pelepasan plasenta untuk mencari sisa plasenta dan bila ditemukan langsung dilepaskan

Reposisi Inversio Uteri
Inversio uteri biasanya terjadi sangat cepat disertai perdarahan dan syok sehingga pertama kali yang harus dilakukan adalah mengatasi syok lalu dilakukan reposisi secara manual.

Tindakan
Lakukan reposisi dengan anestesi umum. Masukkan tangan kanan ke vagina sampai mencapai korpus uteri. Tangan kiri pasien menahan dari luar. Telapak tangan menekan korpus perlahan-lahan, menerus. Apabila plasenta belum lepas, setelah reposisi plasenta dilepaskan dan dipasang tampon selama 2 hari. Setelah bentuk uterus kembali normal dapat diberikan oksitosin. Penyulit dapat timbul bila reposisi tidak dilakukan dalam waktu singkat, yaitu terbentuknya lingkaran konstriksi karena penciutan kanalis servikalis sehingga dibutuhkan pembedahan menurut Haultein. Pada inversio uteri menahun setelah involusi berakhir, dilakukan pembedaan pervaginam menurut Spinelli.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 6 + 11 ?
Please leave these two fields as-is: