Pengeluaran Alat Tubuh

  • Sharebar

Mayat diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan (diganjal) dengari sepotong balok kecil sehingga kepala berada dalam keadaan ekstensi maksimal.

 

Setelah daerah leher tampak jelas, kulit diinsisi pada garis pertengahan badan mulai di bawah dagu ke arah umbilikus (berbentuk huruf I) dengan melingkari umbilikus di sisi kiri dan kembali mengikuti garis pertengahan badan sampai daerah simfisis pubis.

 

Pada daerah leher, dalamnya insisi hanya mencapai setebal kulit saja, sedangkan pada daerah dada, dalamnya insisi mencapai permukaan depan tulang dada (sternum) dan mulai di daerah epigastrium, insisi dilakukan hingga menembus ke dalam rongga perut.

 

Insisi pada dinding perut dimulai pada daerah epi­gastrium dengan membuat irisan pendek yang menembus sampai peritoneum.

 

Jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri dimasukkan ke dalam lubang insisi tersebut. Dinding perut ditarik/diangkat ke atas sehingga pisau dapat diselipkan di antara dua jari tersebut dan insisi dapat diteruskan sampai ke simfisis pubis. Di samping berfungsi sebagai pengangkat dinding perut, kedua jari tangan kiri tersebut berfungsi sebagai pemandu (guide) pisau, serta melindungi alat­-alat dalam rongga perut dan kemungkinan teriris oleh pisau.

 

Dengan memegang dinding perut bagian atas dan memuntir dinding perut tersebut ke arah luar, dinding dada dilepaskan dengan memulai irisan pada otot-otot sepanjang arkus kosta. Pelepasan dinding dada dilakukan terus ke arah dada bagian atas sampai daerah tulang selangka dan ke samping sampai garis ketiak depan. Pengirisan terhadap otot dilakukan dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (blade) yang tegak lurus terhadap otot. Catat kelainan yang ditemukan pada dinding dada yang telah dibebaskan dan otot-otot pektoralis, yang dapat berupa resapan darah, patah tulang maupun luka terbuka.

 

Lepaskan kulit daerah leher dari otot leher yang berada di bawahnya. Perhatikan adanya tanda kekerasan maupun kelainan lainnya.

 

Pada dinding perut, perhatikan dan catat keadaan dan tebal lemak bawah kulit serta otot-otot dinding perut, serta luka-luka bila ada.

 

Perhatikan keadaan alat-alat perut secara umum. Perhatikan apakah tirai usus (omentum) menyebar menutupi seluruh usus-usus kecil atau mengumpul pada satu tempat akibat adanya kelainan setempat. Periksa keadaan usus-usus, adakah kelainan volvulus, intususepsi, infark, tanda-tanda kekerasan lainnya. Bila mayat pemah mengalami operasi sebelumnya, perhatikan pula bagian/alat-alat perut yang mengalami penjahitan, reseksi, atau tindakan lainnya. Perhatikan adanya cairan dalam rongga perut, dan bila ada, catat sifat (serosa, purulen, darah atau cairan keruh) dan jumlahnya. Perhatikan keadaan selaput lendir dinding perut sebelah dalam. Selaput lendir yang normal tampak licin dan halus berwarna kelabu mengkilat. Pada kelainan peritonitis, akan tampak selaput lendir yang tidak rata, keruh dengan fibrin yang melekat. dan nanah.

 

Tentukan pula letak sekat rongga badan (diafragma), dengan membandingkan tinggi diafragma terhadap iga di garis pertengahan selangka atau garis midklavikula.

 

Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-­rawan iga pada tempat setengah sampai satu sentimeter medial dari batas rawan tulang masing-masing iga. Dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (knife blade) yang diletakkan tegak lurus, rawan iga dipotong mulai dari iga ke-2, terus ke arah kaudal. Pemotongan ini dapat dilakukan dengan mudah pada mayat yang masih muda karena bagian rawan belum mengalami penulangan. Dengan tangan kanan memegang gagang pisau dan telapak tangan kiri menekan punggung pisau, pisau digerakkan memotong rawan iga-iga tersebut mulai dari iga kedua sampai daerah arkus kosta. Lakukan hal yang sama pada sisi tubuh yang lain.

 

Dengan memotong insersi otot-otot diafragma yang melekat pada dinding dada bagian depan sebelah bawah, perlekatan sternum dengan perikardium dapat di­lepaskan.

 

Iga pertama dipotong dengan meneruskan irisan pada iga kedua ke arah kraniolateral, dengan demikian, irisan dihindarkan dari mengenai manu­brium sterni yang keras. Setelah rawan iga pertama terpotong, pisau dapat diteruskan ke arah medial menyusuri tepi bawah tulang selangka untuk mencapai sendi antara tulang selangka dan tulang dada (artiokulasio sternoklavikularis) dan memotongnya. Bila ini telah dilakukan pada kedua sisi, maka bagian depan dinding dada telah dapat dilepaskan.

 

Perhatikan pertama-tama letak paru-paru terhadap kandung jantung. Biasanya dengan mencatat bagian kandung jantung yang tampak antara kedua tepi paru­-paru. Kandung jantung yang tampak hanya 1 jari di antara paru-paru menunjukkan keadaan pengembangan paru­-paru yang berlebih (pada edema paru atau emfisema paru).

 

Periksa adanya kelenjar kacangan (timus) yang terletak di sebelah atas dinding depan kandung. Dengan tangan, paru-paru ditarik ke arah medial dan periksa rongga dada, apakah terdapat cairan, darah atau lainnya. Cairan yang ada disendok dan diukur volumenya. Kandung jantung dibuka dengan melakukan peng­guntingan pada dinding depan mengikuti bentuk huruf Y terbalik. Perhatikan apakah rongga kandung jantung terisi oleh cairan atau darah. Cairan yang ada diambil dengan sendok dan diukur volumenya. Periksa pula akan adanya luka baik pada kandung jantung maupun pada permukaan depan jantung.

 

Pada dugaan adanya trombosis a. pulmonalis, permukaan depan bilik jantung kanan diiris memanjang sejajar dengan septum jantung kurang lebih 1 sentimeter lateral dari sep­tum. Irisan ini kemudian diperpanjang dengan gunting ke arah a. pulmonalis.

 

Untuk pemeriksaau lebih lanjut, alat dalam leher akan dikeluarkan bersama-sama dengan alat dalam rongga dada, sedangkan usus halus mulai dari jejunum sampai rektum dilepaskan tersendiri dan kemudian alat dalam rongga perut dikeluarkan bersama alat dalam rongga panggul.

 

Pengeluaran alat dalam leher dimulai dengan melakukan pengirisan insersi otot-otot dasar mulut pada tulang rahang bawah. Irisan dimulai tepat di bawah dagu, menembus rongga mulut dari bawah. Insisi diperlebar ke arah kanan maupun ke arah kiri. Lidah ditarik ke arah bawah sehingga dapat dikeluarkan melalui tempat bekas irisan. Perhatikan keadaan rongga mulut dan catat kelainan yang mungkin ada, antara lain benda asing dalam rongga mulut. Perhatikan pula langit-langit mulut, baik palatum durum maupun palatum mole, untuk mencatat kelainan yang ditemukan. Palatum mole kemudian diiris sepanjang perlekatarmya dengan palatum durum yang kemudian diteruskan ke arah lateral kanan dan kiri, sampai bagian lateral dari plika faringea. Dengan meneruskan pemotongan sampai ke permukaan depan dari tulang belakang dan sedikit menarik alat-alat leher ke arah depan bawah, seluruh alat leher dapat dilepaskan dari perlekatannya.

 

Lakukan pemotongan terhadap pembuluh serta saraf yang berjalan di belakang tulang selangka dengan terlebih dahulu menggenggam pembuluh pembuluh dan saraf tersebut. Lepaskan perlekatan antara paru-paru dengan dinding rongga dada, bila perlu secara tajam. Dengan tangan kanan memegang lidah dan dua jari tangan kiri yang diletakkan pada sisi kanan dan kiri hilus paru, alat rongga dada ditarik ke arah kaudal sampai ke luar dari rongga paru.

 

Lepaskan esofagus bagian kaudal dari jaringan ikat sekitarnya dan buatlah dua ikatan di atas diafragma. Esofagus digunting di antara kedua ikatan tersebut di atas. Tangan kiri kini digunakan untuk menggenggam bagian bawah alat rongga dada tepat di atas diafragma dan lakukan pengirisan terhadap ‘genggaman tersebut’. Dengan demikian, alat dalam leher bersama alat dalam rongga dada dapat dikeluarkan seluruhnya.

 

Usus-usus dilepaskan dengan pertama-tama melakukan dua ikatan pada awal jejunum, dekat dengan tempat menembusnya duodenum dari arah retroperitoneal. Secara topografis, bagian duodenum ini terletak kaudal terhadap kolon transversum, kira-kira di garis pertengahan selangka. Pengguntingan dilakukan di antara dua ikatan yang dibuat, agar isi duodenum tidak tercecer. Dengan tangan kiri memegang pada ujung distal dan mengangkatnya, maka mesenterium yang melekatkan usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat dengan usus. Pengirisan dilakukan dengan pisau organ yang bidang pisaunya (knife blade) diletakkan tegak lurus pada usus dan digerakkan maju mundur seperti gerakan menggergaji. Pengirisan demikian dilakukan sepanjang usus halus sampai daerah ileum terminalis. Pada daerah sekum pengirisan dilakukan terhadap mesokolon, dengan memotong mesokolon pada bagian lateral dan kolon asendens pada daerah ini. Pemotongan harus dilakukan dengan hati-hati, lapis demi lapis agar ginjal kanan serta duodenum pars retro-peritonealis tidak teriris.

 

Pada daerah kolon transversum, lepaskan perlekatan antara kolon dan lambung. Mesokolon kembali diiris di sebelah lateral dari kolon descendens dengan memisahkannya dari limpa dan ginjal kiri. Kolon sigmoid dapat dilepaskan dari dinding rongga perut dengan memotong mesokolon di bagian belakangnya.

 

Rektum dipegang dengan tangan kanan, mulai dari bagian distal dan mengurutnya ke arah proksimal, agar isi rektum dipindahkan ke arah kolon sigmoid dan rektum dapat diikat dengan dua ikatan, untuk kemudian diputus di antara dua ikatan tersebut. Setelah dilakukan pelepasan usus halus dan usus besar, dapat dilakukan pemeriksaan sepanjang usus tersebut untuk menemukan kelainan, baik yang akibatkan oleh kekerasan berupa luka, akibat penyakit dalam bentuk ulkus atau kelainan lainnya.

 

Untuk melepaskan alat rongga perut dan panggul, pengirisan dimulai dengan memotong diafragma dekat pada insersinya pada dinding rongga badan. Pengirisan diteruskan ke arah bawah, sebelah kanan dan kiri, lateral dari masing-masing ginjal, sampai memotong arteri iliaka komunis.

 

Alat rongga panggul dilepaskan dengan terlebih dahulu melepas peritoneum di daerah simfisis (alat rongga panggul terletak retroperitoneal). Kandung kencing serta alat lain dapat dipegang dalam tangan kiri sampai ke arah belakang bersama-sama rektum. Pemotongan melintang dilakukan dengan patokan setinggi kelenjar prostat pada mayat laki-laki dan setinggi sepertiga proksimal vagina pada mayat perempuan. Alat rongga panggul ini kemudian dilepaskan seluruhnya dari perlekatan dengan sekitamya dan dapat diangkat bersama-sama dengan alat rongga perut yang terlebih dahulu.

 

Pemeriksaan pada kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala, dimulai dari prosesus mastoideus, melingkari kepala ke arah puncak kepala (verteks) dan berakhir pada prosesus mastoideus sisi lain. Pada mayat yang lebat rambut kepalanya, sebaiknya sebelum dilakukan pengirisan pada kulit kepala, dilakukan terlebih dahulu penyisiran pada rambut sehingga terjadi garis belahan rambut sepanjang kulit kepala yang akan diiris tersebut. Pengirisan dibuat sampai pisau mencapai peri­osteum. Kulit kepala kemudian dikupas, ke arah depan sampal kurang lebih 1-2 sentimeter di atas batas orbita (margo supraorbitalis) dan ke arah belakang sampai sejauh protuberantia oksipitalis ekstema. Perhatikan dan catat kelainan yang terdapat, baik pada permukaan dalam kulit kepala maupun permukaan luar tulang tengkorak. Kelainan yang biasa ditemukan adalah tanda kekerasan, baik merupakan resapan darah maupun garis retak/patah tulang. Untuk membuka rongga tengkorak, dilakukan penggergajian tulang tengkorak, melingkar di daerah frontal sejarak kurang lebih 2 sentimeter di atas margo supraorbitalis, di daerah temporal _+ 2 sentimeter di atas daun telinga. Pada daerah temporal ini, penggergajian dilakukan setelah otot temporalis dipotong dengan pisau terlebih dahulu. Pemotongan otot temporalis dimaksudkan agar otot tersebut setelah selesai pemeriksaan dapat digunakan sebagai pegangan/tempat jahitan menyatukan kembali atap tengkorak dengan bagian lain tengkorak tersebut. Pada daerah temporalis ini, penggergajian dilakukan melingkari ke arah belakang, _+ 2 sentimeter sebelah atas protuberantia oksipitalis eksterna, dengan garis penggergajian yang membentuk sudut _+ 120 derajat dari garis penggergajian terdahulu. Hal inl dilakukan agar setelah selesai pemeriksaan, atap tengkorak dapat terpasang kembali tanpa tergelincir/tergeser. Agar penggergajian tidak merusak jaringan otak, penggergajian harus dilakukan dengan hati-­hati dan dihentikan setelah terasa tebal tulang tengkorak telah terlampaui. Atap tengkorak selanjutnya dilepas dengan menggunakan pahat berbentuk T (T chisel) dengan jalan mendongkel pada garis penggergajian.

 

Setelah atap tengkorak dilepaskan, pertama-tama lakukan penciuman terhadap bau yang keluar sebab pada beberapa jenis keracunan, dapat tercium bau yang khas.

 

Kemudian perhatikan adanya kelainan baik pada permukaan dalam atap tengkorak maupun pada duramater yang kini tampak. Kelainan dapat berupa luka pada duramater, perdarahan epidural atau kelainan lain. Duramater kemudian digunting mengikuti garis penggergajian, dan daerah subdural dapat diperiksa akan adanya perdarahan, pengumpulan nanah dan sebagainya.

 

Otak dikeluarkan dengan pertama-tama memasukkan dua jari tangan kiri di garis pertengahan daerah frontal, antara bagian otak dan tulang tengkorak. Dengan sedikit menekan baga frontal akan tampak falks serebri yang dapat dipotong atau digunting sampai dasar tengkorak. Kedua jari tangan kiri tersebut kemudian dapat sedikit mengangkat bagian frontal dan memperlihatkan nn. olfaktorius, nn. optikus, yang kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar tengkorak. Pemotongan lebih lanjut dapat dilakukan pada aa. karotis interna yang memasuki otak, serta saraf saraf otak yang keluar pada dasar otak. Dengan memiringkan kepala mayat ke salah satu sisi, serta jari jari tangan kiri sedikit menarik/mengangkat baga pelipis (temporalis) sisi yang lain, tentorium serebeli akan jelas tampak dan mudah dipotong, dimulai dari klivus ke arah lateral menyusun tepi belakang tulang karang otak (os petrosum). Potong pula saraf saraf otak yang keluar pada dasar otak. Dengan cara yang sama, tentorium serebeli sisi lainnya juga dipotong. Perlu diperhatikan bahwa bila tentorium serebeli ini tidak dipotong, otak kecil niscaya akan tertinggal dalam rongga tengkorak.

 

Kepala kemudian dikembalikan pada posisi semula dan batang otak dapat dipotong melintang dengan memasukkan pisau sejauh-jauhnya dalam foramen magnum.

 

Dengan tangan kiri menyanggah daerah bagian oksipital, dua jari tangan kanan dapat ditempatkan di sisi kanan dan kiri batang otak yang telah terpotong, untuk kemudian menarik bagian bawah otak ini dengan gerakan memutar/meluksir hingga keluar dari rongga tengkorak.

 

Setelah otak dikeluarkan, duramater yang melekat pada dasar tengkorak harus dilepaskan dari dasarnya, agar dapat diperhatikan adanya kelainan pada dasar tengkorak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 3 + 8 ?
Please leave these two fields as-is: