Perdarahan Uterus Disfungsional

  • Sharebar
DefinisiPerdarahan uterus disfungsional adalah perdarahan uterus abnormal yang terjadi di dalam maupun di luar siklus haid, yang semata-mata disebabkan gangguan fungsional mekanisme keda hipotalamus-hipofisis-ovarium-endometrium tanpa kelainan organik alat reproduksi. PUD paling banyak dijumpai pada usia perimenars dan perimenopause.

 

Etiologi

Pada usia perimenars, penyebab paling mungkin adalah faktor pembekuan darah dan gangguan psikis.

 

Patofisiologi

Perdarahan uterus disfungsional dapat terjadi pada siklus ovulatorik, anovulatorik maupun keadaan folikel persisten. Pada siklus ovulatorik, perdarahan terjadi karena kadar estrogen rendah. Siklus anovulatorik dipengarubi keadaan defisiensi progesteron dan kelebihan estrogen. Folikel persisten sering dijumpai pada perimenopause. Jenis ini sering menjadi asal keganasan endometrium. Setelah folikel tidak mampu lagi membentuk estrogen, akan terjadi perdarahan lucut estrogen.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah biopsi endometrium (pada wanita yang sudah menikah), laboratorium darah dan hemostasis, USG, serta radio immuno assay.

 

Diagnosis

Langkah pertama adalah menyingkirkan kelainan organik. Pada anamnesis, perlu diketahui usia menars, siklus haid setelah menars, lama dan jumlah darah haid, serta latar belakang kehidupan keluarga dan latar belakang emosionalnya.

 

Pada pemeriksaan fisik umum dinilai adanya hipo/hipertiroid dan gangguan hemostasis seperti petekie. Pemeriksaan ginekologik dilakukan untuk menyingkirkan adanya kelainan organik seperti perlukaan genitalia, erosi/radang atau polip serviks, maupun mioma uteri.

 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pengukuran suhu basal badan atau pemeriksaan hormon FSH dan LH.

 

Penatalaksanaan

Pada usia perimenars, pengobatan hormonal perlu bila:

o Tidak dijumpai kelainan organik maupun kelainan darah.

o Gangguan terjadi selama 6 bulan atau 2 tahun setelah menars belum dijumpai siklus haid yang berovulasi.

o Perdarahan yang terjadi sampai membuat keadaan umum memburuk.

Diberikan progesteron secara siklik dari hari ke-16 sampai 25 siklus haid selama 3 bulan. Setelah itu dilihat apakah perdarahan berulang lagi dan apakah telah terjadi ovulasi. Bila setelah 6 bulan pengobatan tetap tidak terjadi ovulasi, maka dipikirkan pemberian obat-obat pemicu ovulasi seperti klomifen sitrat, epimestrol, atau hormon gonadotropin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 8 + 3 ?
Please leave these two fields as-is: