Perforasi

  • Sharebar

Perforasi alat-alat saluran pencernaan dibagi dalam:

o perforasi non trauma misalnya pada ulkus ventrikuli, tifoid, dan apendisitis

o perforasi oleh trauma (tajam dan tumpul).

 
Manifestasi Klinis
Gejala klinis perforasi saluran pencernaan adalah nyeri yang datang tiba-tiba, nausea dan muntah, defans muskular, ileus paralitik, dan syok.

 

Gejala yang patognomonik adalah pneumoperitoneum dengan tanda klinis berupa mengecil atau menghilangnya pekak hati, terdapatnya udara bebas antara diafragma dan hepar pada pemeriksaan radiologi.

 
Diagnosis Banding
o Perforasi ulkus ventrikuli. Dari anamnesis dapat ditanyakan apakah sebelumnya pasien mempunyai keluhan ulkus ventrikuli. Lokasi nyeri yang hebat terdapat pada epigastrium, sebelah kiri garis tengah pada ulkus duodeni. Namun nyeri epigastrium dapat tidak sejelas yang kita harapkan karena kerasnya dinding abdomen untuk mencegah visera dari palpasi tangan. Udara dari lambung dapat keluar masuk ke ruangan antara hepar dengan dinding perut dan menyebabkan hilangnya pekak hati. Bising usus akan berkurang atau hilang. Bila terjadi keterlambatan penanganan akan menyebabkan udara yang masuk ke rongga peritoneum semakin banyak, menyebabkan distensi abdomen dan perkusi timpani yang difus. Dengan pemeriksaan abdomen 3 posisi akan tampak gambaran udara bebas subdiafragma.

o Perforasi usus halus oleh tifoid timbul pada minggu kedua sakit, atau perforasi pada apendisitis akut.

o Perforasi karena trauma tumpul sangat sulit didiagnosis, lebih-lebih bila terjadi di usus halus terminal atau kolon. Perangsangan peritoneum timbul karena bahan-bahan kimia atau mikroorganisme. Kuman-kuman tersebut memerlukan waktu untuk berkembang biak sehingga tidak jarang ada pasien yang mendapat trauma tumpul di bagian hipogastrium mula-mula tidak menunjukkan adanya gejala abdomen akut, tetapi setelah 24 jam barulah jelas mengalami perforasi. Oleh sebab itu pasien dengan trauma tumpul abdomen sebaiknya dirawat untuk observasi minimal selama 24 jam. Setelah 24 jam bila keadaan umum tetap baik, ada flatus dan defekasi, barulah pasien diperbolehkan pulang. Sedangkan trauma tembus tidak sulit untuk didiagnosis.

 
Prognosis
Apabila tindakan operasi dan pemberian antibiotik berspektrum luas cepat dilakukan maka prognosisnya dubia ad bonam. Sedangkan bila diagnosis, tindakan, dan pemberian antibiotik terlambat dilakukan maka prognosisnya menjadi dubia ad malam.

 
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan perforasi yang paling tepat adalah tindakan operatif, dengan mengatasi syok terlebih dahulu. Pada perforasi ulkus ventrikuli:

o Bila keadaan pasien baik dilakukan reseksi primer lambung dan dilakukan gastroenterostomosis

o Bila keadaan pasien tidak baik, dilakukan eksisi luka perforasi dan penutupan lubang sebaik-baiknya. Dilanjutkan dengan eradikasi dari Helikobakter.Untuk yang tidak dapat dengan pengobatan di atas dilakukan operasi untuk ulkusnya yaitu vagotomi dan pilorplasty

Demikian juga pada perforasi tifoid dilakukan laparotomi, eksisi tepi luka dan ditutup primer. Pada apendisitis perforasi dilakukan laparotomi, apendektomi dan pencucian rongga abdo­men secara bersih. ­

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 13 + 4 ?
Please leave these two fields as-is: