Prinsip Insisi

  • Sharebar

Insisi harus cukup panjang agar operasi dapat leluasa dikerjakan tanpa retraksi yang berlebihan. Retraksi yang berlebihan akan meningkatkan rasa nyeri pasca bedah. Usahakan agar insisi dibuat hanya dengan satu sayatan, karena sayatan tambahan akan meninggalkan bekas yang lebih buruk.

 
Arah
Arah insisi harus direncanakan dengan teliti agar jaringan parut yang terbentuk tidak terlalu menyolok. Insisi sejajar garis Langer akan menyembuh dengan parut yang halus, karena kolagen kulit terarah dengan baik. Arah kolagen kulit diidentifikasi dengan relaxed skin tension lines (RSTL). RSTL diketahui dengan mencubit kulit dan melihat arah kerutan serta penonjolan yang terbentuk. Cubitan tegak lurus terhadap RSTL akan lebih mudah dikerjakan dan menghasilkan kerutan dan tonjolan yang lebih besar. Namun kadang-kadang keleluasaan operasi mengalahkan pertimbangan kosmetis.

 

Di lengan dan tungkai, insisi tidak boleh memotong lipat sendi secara tegak lurus. Ini dapat dihindari dengan:

1. Sayatan memotong lipat sendi ke arah miring. Contohnya insisi Brunner di permukaan ventral jari

2. Memasukkan lipat sendi sebagai bagian dari insisi. Di proksimal dan distal lipat sendi, insisi dapat dibuat longitudinal. Cara ini dikerjakan di fosa poplitea.

3. Jauhi lipat sendi. Contohnya insisi midlateral pada jari.

 

Di daerah wajah, kerutan-kerutan, lipatan kulit, serta garis-garis kontour bisa digunakan untuk menyembunyikan parut bekas luka.

 

Kadang-kadang insisi perlu dimodifikasi untuk menghindari trauma terhadap struktur neovaskular di bawahnya.

 

Sebisa mungkin hindari membuat insisi di daerah: bahu dan prasternal (sering menjadi keloid), di atas tulang yang terletak subkutis (penyembuhannya lambat), atau di dekat atau menyilang jaringan parut (vaskularisasinya mungkin tidak begitu baik).

 
Teknik
o Kulit disayat dengan satu gerakan menggunakan mata skalpel yang tajam. Lebih mudah bila kulit ditegangkan dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, sementara skalpel disayatkan dari kiri ke kanan.

o Jika membuat insisi yang panjang dan lurus, gagang skalpel bermata no. 10 dipegang seperti menggenggam pisau dengan jari telunjuk diletakkan di sisi atas gagang agar pengendalian gerakan lebih mantap. Untuk insisi yang lebih kecil dan rumit (misalnya di daerah tangan), gagang skalpel bermata no. 15 dipegang seperti memegang pena sehingga perubahan arah insisi dapat dikerjakan dengan lebih halus.

o Tekanan sayatan di atur sedemikian rupa agar sayatan tepat membelah epidermis dan dermis. Luka akan merekah dan lemak subkutis dapat terlihat. Jika ragu-ragu, lebih baik menyayat dengan tekanan ringan, meregangkan kulit agar luka terbuka, kemudian memperdalam sayatan.

o Insisi harus tegak lurus kulit sehingga penutupannya lebih baik.

o Diseksi lebih dalam dilakukan dengan melakukan diseksi tajam ataupun tumpul menggunakan skalpel, gunting, atau klem arteri. Bila terdapat vena dan saraf permukaan yang melintas di lapangan operasi, insisi dapat dilakukan sejajar terhadap arah saraf atau pembuluh darah, sejauh tidak mengurangi ruang gerak dan pandangan di daerah operasi. Jika tidak mungkin, lebih baik potong saja daripada terkena cedera, teregang atau terputus secara tidak sengaja. Hal ini harus dipertimbangkan masak-masak.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 4 + 11 ?
Please leave these two fields as-is: