Reaksi Transfusi

  • Sharebar

Definisi

Suatu reaksi yang dapat terjadi setelah pemberian darah, komponen-komponen darah, atau berbagai cairan secara intravena. Reaksi yang terjadi dapat berupa reaksi pirogen, reaksi alergi, reaksi hemolitik, atau transmisi penyakit-penyakit infeksi.

 

Reaksi Pirogen

Reaksi pirogen ditandai dengan pasien kedinginan, diikuti demam biasanya dalam 1 jam setelah tranfusi/infus. Biasanya menggigil akan menghilang setelah 10-15 menit, sedangkan demam akan menetap sampai beberapa jam.

 

Penatalaksanaan

Pasien harus diselimuti dan bila mungkin berikan air hangat (minum). Reaksi pirogen biasanya tidak begitu berbahaya.

 

Reaksi Alergi

Reaksi ini merupakan reaksi hipersensitivitas dari pasien terhadap komponen yang tak diketahui dari darah donor. Reaksi ini sering terjadi dan dihubungkan dengan kemungkinan transmisi antibodi dari donor.

 

Manifestasi Klinis

Reaksi alergi biasanya tidak begitu hebat berupa urtikaria, edema, dan pusing kepala. Kadang-kadang sesak napas dan mengi. Jarang sekali terjadi renjatan anafilaktik.

 

Penatalaksanaan

o Transfusi segera dihentikan.

o Berikan epinefrin 1:1.000 sebanyak 0,5-1 ml subkutan (bila perlu berikan 0,5-0,2 ml iv setelah diencerkan dulu).

o Berikan antihistamin, misalnya difenhidramin 50 mg im.

o Preparat kortikosteroid parenteral.

 

Reaksi Hemolitik

Dapat disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah, inkompatibilitas plasma atau serum, dan pemberian cairan nonisotonik.

 

Manifestasi Klinis

Berat atau ringannya reaksi hemolisis tergantung dari derajat daripada inkompatibilitas, banyaknya darah yang diberikan dan fungsi dari hepar, ginjal, serta jantung. Gejala umumnya timbul akut dan terjadi segera setelah dimulai transfusi berupa

a. Rasa tidak enak dan gelisah.

b. Kesukaran dalam bernapas.

c. Rasa sakit pada leher dan prekordial.

d. Muka menjadi merah (flushing).

e. Sesak napas, tekanan darah menurun.

f. Mual dan muntah-muntah.

 

Fase akut ini terjadi dalam 1 jam pertama. Kematian dapat terjadi pada hari ke-5 sampai ke-14.

 

Pemeriksaan Penunjang

Kadar bilirubin meningkat ikterus, dan hemoglobinuria. Akhirnya dapat terjadi oliguria dan retensi nitrogen yang akan menimbulkan uremia.

 

Penatalaksanaan

o Hentikan transfusi.

o Berikan diuretik untuk mencegah terjadinya nekrosis tubular akut.

o Manitol 10% 10-15 menit diberikan sebanyak 1.000 ml.

o Jika terdapat anuria, kemungkinan besar terjadi gagal ginjal. Pengobatan dilakukan terhadap gagal ginjal akut. Penting diperhatikan keseimbangan cairan dan elektrolit.

o Lakukan pemeriksaan ulang darah donor dan resipien (cross-matched).

 

Transmisi Penyakit lnfeksi

Penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui transfusi antara lain

o Hepatitis

o Malaria

o Sifilis

 

Setiap calon donor harus ditanyakan dahulu apakah pasien pernah menderita penyakit-penyakit tersebut dan apakah pasien pernah atau baru saja datang dari daerah endemis malaria.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 5 + 15 ?
Please leave these two fields as-is: