Tinea Kapitis

  • Sharebar

Definisi

Tinea kapitis (ringworm of the scalp) adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala, alis, dan bulu mata.

 
Etiologi
Tinea kapitis disebabkan oleh beberapa spesies Trychophyton dan Microsporum. Di Indo­nesia penyebab terbanyak adalah M. canis dan T. tonsurans.

 
Manifestasi Klinis
Gambaran klinis bervariasi dari lesi yang hanya berupa skuama ringan sampai berupa alopesia luas. Kelainan dapat pula berupa lesi supuratif dengan proses peradangan berat yang disebut kerion. Secara lebih rinci masing-masing spesies penyebab dapat menimbulkan gejala klinis yang berbeda.

Gambaran klinis tersebut dapat berupa:

1. Grey parch ringworm merupakan lesi dimulai dari papul eritematosa yang kecil di sekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan gatal. Warna rambut abu-abu dan tidak berkilat. Rambut mudah patah (beberapa milimeter di atas kulit kepala) dan terlepas dari akarnya, sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Dapat alopesia setempat, batas lesi tidak tegas. Diameter lesi antara 2-6 cm yang dapat meluas hingga seluruh kepala. Pemeriksaan dengan lampu Wood fluoresensi hijau kekuning-kuningan pada rambut yang sakit melampaui batas­-batas grey patch. Kelainan ini disebabkan oleh M. canis, M audoinii, atau M. ferrugineum.

2. Black dot ringworm adalah rambut terkena peradangan pada muara folikel dan patah meninggalkan bintik-bintik hitam pada alopesia yang penuh spora. Awal hanya 2 atau 3 helai rambut, tidak semua rambut terkena. Lesi dapat multipel dan tersebar di seluruh kulit kepala. Diameter lesi ini mencapai 0,5 – 1 cm. Umumnya tidak berbatas tegas. Bentuk ini disebabkan T. tortsurans, T. violaceum atau T. soudanense.

3. Kerion adalah reaksi peradangan akut yang berat berupa pembengkakan menyerupai sarang lebah dengan sebukan sel radang yang padat di sekitarnya dan disertai pembesaran kelenjar getah bening regional. Pada pemeriksaan teraba pembengkakan, nyeri dan pus keluar dari folikel. Kerion dapat menimbulkan alopesia permanen dan jaringan parut. M. canis, T. mentagrophyters, T. tonsurans, M. gypseum, atau T. verrucosum dapat menyebabkan kelainan ini.

 

Yang berisiko tinggi adalah sosioekonomi rendah. Penyakit ini menular, meskipun cara penularannya masih diperdebatkan. Anak-anak sering tertular dari temannya dan penularan dapatjuga terjadi pada satu keluarga. Penyebab dapat diisolasi dari sisir, sikat, kursi, topi dan alat-alat pencukur rambut. Mula-mula jamur tersebut mengadakan kolonisasi pada permukaan kulit lalu terjadi reaksi peradangan bergantung pada hospes, genera/spesies jamur penyebab dan lokasi lesi. Organisme tersebut bertahan bertahun-tahun pada tubuh pasien, sehingga orang tersebut menjadi karier. Ketegangan atau trauma dapat menimbulkan eksaserbasi.

 
Penatalaksanaan
Perlu diperhatikan faktor predisposisi, faktor sumber penularan, faktor pasien, dan faktor obat. Mengingat lokasi jamur dalam folikel rambut, maka diberikan obat oral, kecuali bila tidak ada kontraindikasi. Untuk mencegah penyebaran spora, berikan obat topikal berupa sampo. Sebagai sampo dapat digunakan selenium sulfida, sampo povidone iodine atau sampo yang mengandung derivat azol. Pemberian 2 kali seminggu dapat mencegah penularan dan perluasan infeksi serta bermanfaat mempercepat kultur negatif

 

Pengobatan sistemik dengan griseofulvin microsize dengan dosis yang direkomendasikan. Lama pemberian 6-8 minggu. Pengobatan sistemik juga dapat menggunakan ketokonazol atau itrakonazol. Dosis ketokonazol 200 mg/hari dengan lama pemberian 4-6 minggu. Dosis itrakonazol 100 mg/hari dengan lama pemberian 5 minggu. Obat oral lain yang dilaporkan efektif adalah derivat alilamin (terbinafin). Dosis berkisar 62,5 -250 mg/hari tergantung berat badan pasien.

 

Kortikosteroid oral dapat dipertimbangkan penggunaannya dalam keadaan-keadaan tertentu, untuk menghindari reaksi ‘id’ dan mengurangi peradangan. Penggunaan kortikosteroid oral misalnya pada bentuk kerion dapat diberikan prednisolon 20 mg/hari digunakan jangka pendek (selama +_ 5 hari) untuk mengurangi gejala inflamasi dan sisa alopesia.

 
Prognosis
Infeksi jamur yang ringan dapat sembuh spontan. Reaksi peradangan yang hebat lebih mudah sembuh terutama yang disebabkan spesies zoofilik. Infeksi ektotriks kadang-kadang dapat sembuh tanpa pengobatan. Infeksi endotriks dapat berjalan kronis dan berlangsung sampai dewasa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 13 + 11 ?
Please leave these two fields as-is: