Trauma Hidung

  • Sharebar

Trauma Hidung

Berdasarkan waktu, trauma hidung terbagi atas trauma baru, di mana kalus belum terbentuk sempurna, dan trauma lama, bila kalus sudah mengeras (biasanya pada akhir minggu kedua setelah trauma).

 

Berdasarkan hubungan dengan dunia luar, disebut trauma terbuka bila kulit hidung terluka dan terdapat hubungan dengan dunia luar, dan trauma tertutup bila kulit di tempat trauma utuh.

 

Arah trauma harus diperhatikan karena akan menyebabkan kelainan yang berbeda. Dari lateral, bila ringan akan terjadi fraktur tulang hidung ipsilateral, sedangkan bila cukup keras akan menyebabkan deviasi septum nasi dan fraktur tulang hidung kontralateral. Dari frontal, dapat terjadi open book fracture dan fraktur serta terlipatnya septum nasi. Dari inferior, dapat timbul fraktur dan dislokasi septum nasi. Berdasarkan lokasi, terbagi atas dorsum nasi atau frontal etmoid.

 

Manifestasi Klinis

Dilakukan pemeriksaan kulit serta struktur hidung dan kavum nasi untuk mengungkapkan adanya deformitas, deviasi, ataupun kelainan bentuk. Pada tempat trauma akan tampak edema, ekimosis, hematom, laserasi, luka robek, atau perdarahan berupa bekuan darah ataupun hematom septum nasi. Pada palpasi fraktur terdapat krepitasi, deformitas, angulasi, dan nyeri.

 

Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan pemeriksaaan radiologi posisi anteroposterior dan lateral, namun tidak semua garis fraktur dapat terlihat.

 

Komplikasi

Komplikasi segera yang bersifat sementara yaitu, edema, ekimosis, epistaksis, dan hematom.

 

Komplikasi lambat yang dapat terjadi adalah infeksi, obstruksi hidung, jaringan parut dan fibrosis, deformitas sekunder, sinekia, hidung pelana, obstruksi duktus nasolakrimalis, dan perforasi septum.

 

Penatalaksanaan

Sebagai tindakan penyelamat, mula-mula jalan napas harus dibebaskan dari semua sumbatan, kalau perlu intubasi atau trakeostomi. Bila syok, segera atasi dengan infus. Perdarahan harus segera ditanggulangi. Untuk mempertahankan fungsi hidung dan mencegah komplikasi, dilakukan reposisi hidung dengan anestesi lokal atau umum.

 

Prinsipnya reposisi dilakukan segera bila keadaan umum memungkinkan. Pada trauma hidung terbuka, perlu dilakukan eksplorasi di tempat luka. Fragmen tulang yang fraktur disusun kembali dan dilakukan fiksasi dengan kawat.

 

Pada kasus trauma frontoetmoid, walaupun tertutup, dilakukan eksplorasi supaya dapat menyusun kembali fragrnen tulang yang fraktur, kemudian dilakukan fiksasi antar tulang. Kasus ini sering disertai fraktur dasar orbita, sehingga terdapat diplopia.

 

Pada trauma hidung tertutup, dengan adanya edema dan hematoma yang luas, kadang diagnosis fraktur dan posisi fragmen tulang sulit ditegakkan. Sebaiknya ditunggu sampai akhir minggu pertama sehingga deformitas akan lebih jelas terlihat. Kemudian reposisi dilakukan secara tertutup, dalam waktu tidak lebih dari 2 minggu karena jika kalus sudah mengeras akan sukar direposisi. Reposisi septum dilakukan dengan cunam Ashe, untuk menggeser septum yang fraktur atau dislokasi ke garis median. Untuk melakukan reposisi prosesus frontalis os maksila dan os nasal dipakai cunam Walsham. Setelah yakin bentuknya baik dan berada di median, dilakukan fiksasi di dalam rongga hidung memakai tampon dan di atas hidung dipasang gips. Pada fraktur lama di mana kalus sudah mengeras, perlu dilakukan osteotomi dan dirujuk ke ahli THT.

 

Meskipun kelainan hidung ringan saja namun mudah terlihat, sehingga hal ini akan mempengaruhi keadaan psikis pasien. Untuk tujuan estetis, perlu dilakukan operasi untuk psikoterapi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 11 + 8 ?
Please leave these two fields as-is: