Tuberkulosis

  • Sharebar

Penyakit ini merupakan penyakit rakyat yang sering dijumpai dan kehamilan tidak banyak mernberikan pengaruh. Gejala yang tampak sesuai dengan penyakit tuberkulosis (TBC). Pada pasien yang dicurigai menderita TBC paru lakukan pemeriksaan tes tuberkulin dengan PPD (purified protein derivate) 5 unit dan bila hasilnya positif (lebih dari 15 mm pada kasus dengan/tanpa faktor risiko) lanjutkan dengan foto toraks. Janin harus dilindungi terhadap sinar rontgen. Pemeriksaan ini ditujukan terutama untuk pasien dengan perubahan tes tuberkulin dari negatif menjadi positif, serta untuk pasien dengan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sesuai, namun hasil tes tuberkuhn negatif.

 

Dilakukan pemeriksaan sputum BTA pada penderita dengan TBC paru aktif untuk diagnosis pasti sekaligus uji sensitivitas.

 

Bila diobati dengan baik, tidak ditemukan pengaruhnya pada ibu yang sedang hamil.

 

Janin dengan TBC kongenital jarang ditemukan, biasanya janin baru tertular setelah lahir karena dirawat atau disusui oleh ibunya.

 

Penatalaksanaan

Berikan penjelasan dan pendidikan kepada pasien bahwa penyakitnya bersifat kronik sehingga diperlukan pengobatan yang lama dan teratur. Ajarkan untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk, bersin, dan tertawa.

 

Sebagian besar obat anti tuberkulosis aman untuk wanita hamil, kecuali streptomisin yang bersifat ototoksik bagi janin dan harus diganti dengan etambutol pada kehamilan. Pasien hamil dengan TBC paru yang tidak aktif tidak perlu mendapat pengobatan. Untuk pasien dengan TBC paru aktif, gunakan dua macam obat atau lebih agar tidak terjadi resistensi. Isoniazid adalah obat terpilih karena paling aman untuk kehamilan, efektivitasnya tinggi, dan harganya lebih murah.

 

Obat yang dapat dipakai isoniazid (INH) 300 mg, etambutol 15-20 mg, streptomisin 1 g, dan rifampisin 600 mg selama 6 bulan. Yang harus diperhatikan adalah efek samping dari obat terhadap kehamilan. Laporan efek samping etambutol terhadap kehamilan sangat sedikit dan pada janin belum ada. Rifampisin memberikan efek teratogenik pada binatang percobaan sehingga sebaiknya tidak diberikan pada trimester pertama kehamilan.

 

Setelah 1-2 bulan pengobatan, lakukan pemeriksaan sputum ulang. Bila masih positif, ulang tes sensitivitas kuman.

 

Bila pasien sudah sembuh, lakukan persalinan secara biasa. Pasien TBC aktif harus ditempatkan dalam kamar bersalin terpisah, persalinan dibantu ekstraksi vakum atau forseps. Usahakan pasien tidak meneran, berikan masker untuk menutupi mulut dan hidung agar kuman tidak menyebar. Dalam masa nifas pun, obat harus terus diberikan dan pasien dirawat di ruang isolasi.

 

Karena bayi cukup rentan terhadap penyakit ini, sebagian besar ahli menganjurkan pemisahan dari ibu jika dicurigai menderita TBC aktif

 

Pasien TBC yang menyusui harus mendapat regimen pengobatan yang penuh. Semua obat antituberkulosis sesuai untuk laktasi sehingga pasien dapat tetap melanjutkan pemberian laktasi pada bayinya dengan aman secara normal. Bayi harus mendapat profilaksis INH dan imunisasi BCG.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 10 + 2 ?
Please leave these two fields as-is: