Visum et Repertum Kasus Perkosaan

  • Sharebar

Definisi

Perkosaan ialah tindakan menyetubuhi wanita yang bukan istrinya dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Persetubuhan sendiri didefinisikan sebagai penetrasi penis ke dalam kemaluan wanita (mulai dari labia minor). Pada kasus akut/dini (dalam 7 hari setelah kejadian) masih dapat dicari adanya sperma sebagai bukti. Sedangkan bila korban diperiksa lebih dari 7 hari setelah kejadian, kemungkinan ditemukannya sperma lebih sulit dan pemeriksaan lebih ditujukan untuk mengetahui terjadinya kehamilan.

 

Penanganan medis kedokteran wanita korban perkosaan meliputi:

o Pencatatan anamnesis secara lengkap.

o Pemeriksaan fisik dengan hati-hati.

o Penatalaksanaan medis cedera fisik.

o Pengumpulan bukti-bukti hukum.

o Pencegahan kehamilan.

o Pencegahan penyakit menular seksual.

o Penanganan psikologis dan/atau psikiatri selanjutnya.

 

Dalam penanganan korban (hidup) perkosaan, dokter memiliki peran ganda yaitu sebagai pemeriksa yang membuat visum et repertum (VeR) serta tenaga medis yang mengobati dan merawat korban.

 

Pemeriksaan korban perkosaan. Lakukan secara cepat dan diam-diam dalam tempat pemeriksaan terpisah. Segera tangani korban dengan keadaan kritis dan lakukan pemeriksaan forensik setelah keadaan stabil. Korban sebisanya tidak pergi ke kamar mandi, mandi, makan, atau minum sampai pemeriksaan selesai. Keluarga, teman, perawat, atau petugas dapat menemani bila perlu. Yang penting, korban tidak ditinggalkan sendirian, tetapi ditemani orang yang juga berperan sebagai saksi dalam pemeriksaan. Yakinkan korban tentang keamanannya dan jelaskan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan.

 

Pembuatan VeR. Harus ada permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang dan korban harus diantar polisi. Buat visum berdasarkan keadaan yang didapatkan pada tubuh korban saat surat permintaan VeR diterima dokter. Hasil pemeriksaan korban yang diperiksa datang atas inisiatif sendiri, bukan atas permintaan polisi, tidak dapat dijadikan VeR, tetapi hanya sebatas surat keterangan. Untuk membuat VeR, korban harus datang dengan polisi yang membawa surat permintaan VeR. VeR dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan saat permintaan diajukan.

 

Tugas dokter. Tugas dokter bukan menentukan apakah korban telah diperkosa, melainkan mencari ada/tidaknya bukti berupa tanda-tanda persetubuhan, kekerasan dan jenis kekerasan yang menyebabkannya sesuai kejadian. Dokter harus teliti, waspada, dan curiga, namun tetap obyektif dan tidak memihak. Catat setiap penemuan, termasuk hal-hal yang tidak ditemukan, tetapi relevan dengan keterangan korban. Jangan menyampaikan kesimpulan atau opini. Simpan bukti-bukti yang diperoleh dalam tempat terpisah, disegel, dan diberi label dengan jelas berisi nama korban, tanggal, nama pemeriksa, dan dari mana bukti diperoleh. Di atas segel tulis inisial pemeriksa secara melintang sehingga bila telah dibuka akan diketahui. Barang bukti diserahkan secara langsung pada polisi (dengan tanda terima) atau disimpan di tempat terkunci. Hal ini untuk menjamin bukti dapat digunakan dengan sah di pengadilan.

 

Dasar Hukum

Agar kesaksiannya dalam perkara pidana dapat membantu pengadilan dengan sebaik-baiknya, dokter perlu mengetahui undang-undang yang berkaitan dengan tindak pidana tersebut. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) diatur undang-undang tentang kejahatan terhadap kesusilaan, yaitu:

 

Pasal 284

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:

1a. Seorang pria telah kawin yang melakukan zina, padahal diketahuinya bahwa pasal 27 BW berlaku padanya;

1b. Seorang wanita telah kawin yang melakukan zina, padahal diketahuinya bahwa pasal 27 BW berlaku padanya;

2a. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin;

2b. Seorang wanita tidak kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya;

(2) Tidak dilakukan penuntutan, melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tempo tiga bulan diikuti dengan permintaan bercerai atau pisah meja dan tempat tidur karena alasan itu juga.

(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.

(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum dimulai.

(5) Jika bagi suami istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.

 

Pasal 285

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan diancam karena melakukan perkosaan dengan penjara paling lama dua belas tahun.

 

Pasal 286

Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

 

Pasal 287

(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawini, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan kecuali jika umur wanita itu belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.

 

Pasal 291

(1) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 296, 287, 289, dan 290 mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

(2) Jika salah satu kejahatan yang di dalam pasal 285, 286, 287, dan 290 itu mengakibatkan kematian, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

 

Burgerlyk Wetboek (BW) pasal 27 berisi: Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehkan mempunyai satu orang perempuan sebagai istrinya, seorang perempuan hanya satu orang laki sebagai suaminya.

 
Anamnesis
Tanyakan apakah pasien telah mandi, membersihkan diri, mengganti pakaian, atau minum obat-obatan sejak kejadian tersebut. Secara keseluruhan data yang didapat harus meliputi:

1. Identitas: umur, tanggal dan tempat lahir, status perkawinan.

2. Riwayat medis.

3. Riwayat ginekologi; termasuk riwayat menstruasi (menars, lama, jumlah, siklus, keteraturan, nyeri), metode kontrasepsi, riwayat penyakit menular seksual, riwayat penyakit radang panggul, koitus terakhir, dst.

4. Riwayat obstetri; cara melahirkan, graviditas, dan paritas.

5. Tempat, tanggal dan jam terjadinya perkosaan.

6. Deskripsi kejadian dengan kata-kata pasien sendiri.

Perlu ditanyakan apakah korban pingsan dan apa sebabnya, apakah karena korban ketakutan hingga pingsan atau korban dibuat pingsan dengan obat tidur atau obat bius yang diberi pelaku.

 

Ada dua pendapat mengenai anamnesis dalam VeR saat ini. Ada yang memasukkannya dalam VeR karena merupakan bagian dari pemeriksaan. Tetapi, ada yang memilih tidak dimasukkan dalam VeR karena bukan fakta yang dilihat dan ditemukan dokter sendiri. Namun, bila diminta yang berwajib, anamnesis adalah ‘keterangan dari yang diperiksa’ yang dilampirkan pada visum.

 
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
o Catat keadaan uman pasien, keadaan, emosi dan sikapnya. Lakukan pemeriksaan pakaian dengan teliti, apakah dalam keadaan rapi, apakah terdapat robekan baik lama ataupun baru, memanjang atau melintang. Cari adanya kancing yang terputus akibat tarikan, bercak darah, air mani, dan lumpur yang berasal dari tempat kejadian.

o Cari tanda-tanda trauma, seperti laserasi, luka, dan adanya benda asing, terutama di mulut, leher, lengan, dada, dan paha. Deskripsi dan gambarkan dengan baik, bila perlu dipotret pihak yang berwenang.

o Jika ditemukan benda asing, ambil dan simpan dalam amplop dengan identifikasi yang baik. Dapat dilakukan pencarian semen dengan lampu Woods karena akan berfluoresensi hijau kuning. Namun, bila tidak ada larnpu Woods, cukup dengan perabaan dan penglihatan di daerah yang dicurigai terdapat semen. Pada bahan tekstil bercak semen kaku seperti kanji yang mengering. Pada tekstil yang tidak menyerap semen, bercak bisa teraba sedikit kaku atau tidak, tapi permukaannya lebih kasar daripada sekitarnya. Secara visual, pada tekstil yang menyerap, bercak semen segar dapat tidak berwarna atau keabu-abuan di tepinya. Tepi ini akan berangsur-angsur berubah warna menjadi kuning sampai coklat dalam waktu + 1 bulan. Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak semen segar menunjukkan permukaan mengkilat dan translusen. Dalam beberapa hari bercak menjadi putih granular, setelah 1 minggu menyerupai deposit cairan gula yang telah mengering, dan dalam + 1 bulan menjadi kuning sampai coklat. Bila latarnya gelap, bercak hampir tidak dapat dikenali lagi. Noda mencurigakan diperiksa dengan 2 kapas lidi yang dibasahi NaCl 0,9%.

o Sisir rambut kepala dengan sisir baru di atas kertas toilet, secara hati-hati kumpulkan benda asing yang ditemukan. Ambil juga rambut standar dengan mencabut secara langsung.

o Cari adanya benda asing di bawah kuku jari, periksa, dan pisahkan antara kanan dan kiri. Biasanya kuku digunting dan dimasukkan dalam amplop dan dikirim untuk pemeriksaan

o Lakukan pemeriksaan bimanual untuk mengetahui adanya kehamilan sebelum kejadian, infeksi, dan tanda-tanda trauma lainnya.

 
Pemeriksaan Genitalia
o Pasien diminta berbaring dalam posisi litotomi.

o Lakukan inspeksi genitalia eksterna untuk melihat adanya deflorasi himen, laserasi vulva atau vagina.

Selaput darah yang utuh dapat dibagi dalam 3 golongan utama berdasar bentuk dan tepi lubangnya.

a. Bentuk teratur dengan tepi yang teratur dan utuh: hirnen anularis, himen semilunaris, himen labiiformis.

b. Bentuk teratur dengan tepi tidak teratur: himen lobatus, himen dentatus, himen fimbriatus, himen koroliformis.

c. Bentuk tidak teratur dengan tepi teratur atau dengan tepi tidak teratur: himen imperforatus, himen bipartitus/septus, himen partim septus (sulit dibedakan dengan himen yang telah mengalami deflorasi), himen multipleks/koroliformis, himen kribrosus.

o Sisir rambut pubis (pemeriksaan seperti rambut kepala). Bila terlihat menggumpal, dicurigai terdapat noda semen. Rambut harus digunting dan diperiksa sebagai bukti. Periksa dan catat adanya memar, laserasi, dan daerah yang nyeri. Lampu Woods dapat dipakai untuk mencari adanya bercak semen. Daerah yang paling sering cedera adalah introitus posterior, himen, dan forniks posterior.

o Untuk memeriksa serviks dan vagina gunakan spekulum tanpa pelicin, cukup dengan dibasahi dengan air. Sperma dapat ditemukan dalam vagina dalam keadaan motil sampai 12 jam, sedangkan dalam serviks sampai 7 hari. Ambil spesimen untuk mencari sperma dengan kapas lidi dari daerah-daerah berikut:

1. Labia minor.

2. Forniks vagina untuk mencari sperma.

Pada masing-masing daerah diusapkan 2 kapas lidi. Satu kapas lidi langsung diusap di kaca obyek, keringkan, lalu tutup dengan kaca obyek lagi dengan diganjal lidi di antara kedua kaca tersebut (sehingga tidak saling bersentuhan maupun tergores dalam penyimpanan). Masukkan kaca objek dalam amplop. Kemudian, keringkan kapas lidi dan simpan pula dalam amplop. Kedua amplop tersebut dikirim ke laboratorium forensik terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dalam bentuk ini, spesimen dapat bertahan sekitar 1 bulan. Usapkan kapas lidi kedua di kaca obyek, tambahkan 1 tetes NaCl 0,9%, lalu lakukan pemeriksaan mikroskopik langsung untuk mencari adanya sperma. Dapat dipakai pewarnaan Giemsa (fiksasi dalam metil alkohol selama 3 menit) atau Papanicolau (fiksasi dalam alkohol 95% selama 15 menit), atau lainnya. Kemudian, masukkan kapas lidi dalam tabung berisi 1 ml NaCl 0,9% dan simpan dalam suhu 4-6oC jika akan dilakukan pemeriksaan kimiawi.

o Dapat dilakukan bilas vagina dengan NaCl 0,9% (4 ml) untuk mencari semen dengan alat khusus berbentuk seperti penyemprot/vaginal douche applicator atau dengan pipet.

o Selain untuk mencari sperma, dari apusan kapas lidi lakukan pemeriksaan Gram secara langsung dan kultur gonore pada perbenihan Thayer Martin atau New York City Medium bila fasilitas memungkinkan.

Pemeriksaan terhadap anak kecil harus ditemani orang dewasa yang dipercayainya, bila perlu dapat dilakukan dalam pembiusan umum. Dapat dilakukan dalam posisi litotomi, atau knee chest.

Gambar bentuk-bentuk himen

 
Pemeriksaan Rektal
Dilakukan bila terdapat indikasi berdasarkan anamnesis pasien. Dilakukan inspeksi, apusan kapas lidi yang sudah dibasahi NaCl 0,9%, dan kultur gonore. Kapas lidi diusapkan terutama pada lipatan-lipatan mukosa (kripti), bukan di tengah anus.

 
Pemeriksaan Penunjang
Selain pemeriksaan di atas, dapat dilakukan tes penentuan golongan darah, tes kehamilan, tes serologi untuk sifilis (VDRL, Wasserman, Kahn), dan tes toksikologi bila terdapat indikasi.

 

Penatalaksanaan

Secara garis besar meliputi 3 tujuan, yaitu pencegahan infeksi penyakit menular seksual, pencegahan kehamilan, dan penatalaksanaan trauma korban.

 

Infeksi yang dideteksi dalam 24 jam setelah kejadian sebagian besar telah diderita sebelum kejadian. Untuk mencegah penyakit menular seperti gonore dan sifilis, berikan penisilin 4,8 juta unit atau amoksisilin 3 g dan probenesid 1 g atau seftriakson 250 mg intramuskular. Bila alergi penisilin, berikan spektinomisin 2 g intramuskular diikuti doksisiklin 100 mg 2 kali sehari peroral selama 7 hari. Wanita hamil diberikan eritromisin 500 mg 4 kali sehari selama 7 hari, sedangkan anak-anak 30-50 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis. Pemberian tergantung pula pada hasil sensitivitas bakteri lokal. Untuk klamidia dapat diberikan azitromisin 1 g dosis tunggal oral. Untuk anak-anak tidak direkomendasikan profilaksis, kecuali tersangka diketahui infeksi.

 

Pemeriksaan dan penatalaksanaan HPV, HIV, hepatitis dan hespes simpleks masih menjadi kontroversi karena masa latennya yang panjang.

 

Untuk mencegah kehamilan dapat diberikan pil kontrasepsi pascasenggama bila masih dalam waktu yang ditentukan (keterangan mengenai pil yang digunakan dapat dibaca dalam subbab Kontrasepsi). Lakukan tes kehamilan yang efektif sebelum dilakukan pengobatan bila dicurigai terdapat kehamilan sebelumnya.

 

Trauma fisik umumnya. Bila perlu diberikan suntikan tetanus toksoid pada luka yang cukup dalam. Yang paling penting adalah trauma psikologis yang diderita, biasanya terdiri dari fase akut dan fase jangka panjang. Mula-mula pasien dapat bersikap ekspresif, termasuk marah, sedih, dan ansietas, atau bersikap terkontrol. Gangguan paling umum diderita adalah somatisasi dan dapat berlangsung selama 3-6 bulan. Fase jangka panjang dapat berlangsung bertahun-tahun, termasuk depresi, disfungsi seksual, penyalahgunaan zat, percaya diri yang rendah, obesitas, dan nyeri panggul kronik.

 

Dilakukan pemeriksaan ulang 7-14 hari kemudian untuk tes serologi dan kultur gonore tetap negatif, pasien tidak hamil, dan terapi psikologis yang diperoleh sesuai.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 6 + 8 ?
Please leave these two fields as-is: